Tampilkan postingan dengan label Puisimini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisimini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Februari 2012

Puisimini-Halaman 114


Musik

Aku menari-nari mendengar suaramu
Karena kau (selanjutnya baca DISINI)

***



Kutuk

“kau bajingan”, kataku
Lalu kau kutuk (selanjutnya baca DISINI)

***

Puisimini-Halaman 115


Percakapan 25 Agustus
: selamat ulang tahun buat seorang wanita yang
-katanya- menyayangiku

Dik, ku serahkan kado ini untukmu
Silahkan (selanjutnya baca DISINI)

***



Kata-kata (6)

Berhentilah berkata-kata!
Aku sudah muak(selanjutnya baca DISINI)

***

Senin, 23 Januari 2012

Puisimini-Halaman 113


Seperti Pasir

Seperti pasir
Satu per (selanjutnya baca DISINI)

***
(Terbit di Harian Pagi METRO RIAU edisi : Minggu, 12 Februari 2012)



Di Tengah Padang Ilalang

Di tengah padang ilalang
Kubenamkan (selanjutnya baca DISINI)

***
(Terbit di Harian Pagi METRO RIAU edisi : Minggu, 12 Februari 2012)


Puisimini-Halaman 112


Cemburu (Ups!)

Ups!
Kau cemburui aku
Saat berdua (selanjutnya baca DISINI)

***



Kubur

Setelah tujuh langkah
Aku segera dijajah (selanjutnya baca DISINI)

***

Puisimini-Halaman 111


Cemburu (Ups!)

Ups!
Kau cemburui aku
Saat berdua dengan dirimu yang lain

***



Kubur

Setelah tujuh langkah
Aku segera dijajah
Dan kau tak merasa gelisah

***

Puisimini-Halaman 110


Mahsyar

Di gurun mahsyar
Aku terkapar (selanjutnya baca DISINI)

***



Daun

Gugur daun-daun
Hanya aku yang (selanjutnya baca DISINI)

***

Puisimini-Halaman 109


17 Agustus Versus 17 Ramadhan

“Merdeka!”, kataku
Pahlawan cemberut (selanjutnya baca DISINI)

***



Do’a (2)

Aku ingin sujud
Hingga (selanjutnya baca DISINI)

***

Puisimini-Halaman 108


O

O darah, o gundah
Telah menyerlah o dalam (selanjutnya baca DISINI)

***



Ramadhan

Dalam Ramadhan
Mari kecapi aroma syurga (selanjutnya baca DISINI)

***

Puisimini-Halaman 107


Bisik
: buat sebuah nama

Pssst…
Dengarkan aku berbisik
Aku muak (selanjutnya baca DISINI)

***



Basah

Kaki ini telah basah
oleh (selanjutnya baca DISINI)

***

Puisimini-Halaman 106


Do’a

Yang segala Maha
Maafkan air mata (selanjutnya baca DISINI)

***



Pisah

Ku aku
Kau (selanjutnya baca DISINI)

***

Puisimini-Halaman 105


Permintaan

Ku katakan pada malam
“peluk aku (selanjutnya baca DISINI)

***



Diam-diam

Diam-diam ku temui tawa
Tanpa berpamit (selanjutnya baca DISINI)

***

Puisimini-Halaman 104


Sebelum Sampai

Sebelum sampai aku pada luka
Akan kujemput darah (selanjutnya baca DISINI)

***



Puasa

Setelah berpuasa
Pada akhirnya, (selanjutnya baca DISINI)

***

Puisimini-Halaman 103


Mungkin Tak Mungkin

…maka kemungkinan dan ketakmungkinan itu
Adalah sama (selanjutnya baca DISINI)

***



Ahlan Wa Sahlan

Selamat datang
Untuk bulan (selanjutnya baca DISINI)

***

Puisimini-Halaman 102


Yang Celaka

Terang mata tak terang hati
Jelas telinga (selanjutnya baca DISINI)

***



Nafas (2)

Segenap tatap menuju kebutaan yang gelap
Serongga kata (selanjutnya baca DISINI)

***

Puisimini-Halaman 101


Tahajud

Dalam kedalaman kata, tersimpan luka
Maka dalam tahajud, (selanjutnya baca DISINI)

***



Pada Zuhur Ini

Pada zuhur ini aku bertafakur
Mengukur jalur (selanjutnya baca DISINI)

***

Puisimini-Halaman 100


Engkau

Dalam ketidakbenaran telah bersimpuh ketersalahan yang meng-aku
Maka dalam kenyataan, (selanjutnya baca DISINI)

***



Tawa dan Luka

Sesempurna tawa, sempurnalah luka
Maka (selanjutnya baca DISINI)

***

Puisimini-Halaman 99


Agustus 2011





Subuh Ini

Subuh ini mengingatkanku pada nama-Mu yang teduh
Lalu merengkuhku (selanjutnya baca DISINI)

***

Puisimini-Halaman 97


Telapak Tangan

Buka telapak tanganmu, dik
Akan kutanam (selanjutnya baca DISINI)

***



Merah

Ku katakan aku cinta
Pipimu memerah (selanjutnya baca DISINI)

***

Puisimini-Halaman 96


Loh?

Loh?
Kau sebut cinta (selanjutnya baca DISINI)

***



Arti

Bulan tenggelam
Artinya (selanjutnya baca DISINI)

***

Puisimini-Halaman 95


Perbandingan

Di langit;
Awan, bintang, bulan dan matahari
Di mata kau; (selanjutnya baca DISINI)

***



Dinding (Busur Panah)

Sandarkan tubuhmu pada dinding itu, dik
Letakkan balon dusta (selanjutnya baca DISINI)

***